Senin, 27 Mei 2013

Kisah Umroh - Umarat's Part 2

Umroh Dari Warung Padang Part 2 (Rencana & Persiapan)

Hasil cakap-cakap dengan Kuswantoro lewat facebook membuat hati bertanya pada diri sendiri. Kenapa aku tak coba umroh backpacker? Bukankah aku bisa menginap di asrama Kuswantoro yang sedang kuliah di Jeddah? Waktu itu aku pikir Jeddah-Mekkah dekat sekali. Jadi jika ada bus, tentu bisa pakai bus saja bolak-balik. Kalau tak sempat, aku bisa menginap di Masjidil Haram. Umroh backpacker cukup seksi, menarik, membangkitkan gelora terpendam dalam hati, gejolak jiwa muda yang selalu ingin berpetualang. “Oke deh. Aku harus coba!” begitu tekad dipekikkan dalam hati.

Aku mencari informasi lengkap tentang umroh backpacker. Mulai dari searching artikel di internet, beli buku lewat online, sampai hunting buku murah di Blok M Square, semua dijalani. Tujuannya hanya satu, ingin paham ilmu umroh dan haji secara menyeluruh. Niat dasarnya adalah ingin belajar lagi. Ada beberapa buku acuan yang dibaca. Diantaranya, Umroh Backpacker 1 & 2 oleh Aguk Irawan, Orang Batak Naik Haji oleh Baharuddin Aritonang, dan Makna Haji karangan Ali Syariati. Menariknya, saat proses mencari buku di Blok M Square, aku bertemu bapak-bapak berumur 50-an tahun. Namanya Mongisidi. Ia mantan anggota DPRD di suatu daerah di pulau Kalimantan. Saat ini ia jualan buku Islam di Blok M Square lantai dasar. Ia punya pertanyaan menarik padaku.

“Mengapa cari buku umroh/haji?” tanyanya.
“Saya ingin berangkat umroh, Insya Allah pak!” jawabku mantap. Padahal waktu itu, aku belum tahu pasti, kapan berangkatnya karena belum siap secara finansial. Hanya keyakinan dalam hati yang terpendam yang membuat mulut keceplosan bicara.
“Mengapa berangkat umroh/haji? Mendingan uangnya buat panti asuhan, buat wakaf. Pahalanya lebih besar,” ujarnya membuka perdebatan.
“Memang sih pak, pahala wakaf bisa kekal abadi. Tapi umroh itu, ibadah pribadi yang mengasah kesalehan pribadi kita,” jawabku singkat.

Persiapan Ambil Miqat

“Dek, coba adek kalkulasi pahalanya. Besaran mana antara haji/umroh dengan wakaf. Allah itu memberi kita akal, agar bisa menghitung lho. Kalau adek umroh atau haji, tapi saudaranya atau tetangganya sulit makan, adek berdosa lho. Itulah alasan saya dari dulu tidak pergi umroh atau haji,” urainya memancing perang argumen.

Saat itu aku agak berang dalam hati. Pikirku, memang sih, Allah kasih akal untuk mikir. Tapi jika aku memilih umroh daripada wakaf ke lembaga tertentu, apakah salah? Tidak kan? Bukan berarti aku juga tidak melalui proses “berpikir” kan? Toh, tiap bulan aku juga mengeluarkan dan membersihkan hartaku melalui zakat profesi. Tetanggaku juga tidak ada yang kelaparan. Kalau aku memilih umroh sebagai sarana mengasah kesalehan pribadi, lalu setelah pulang dari sana, baru bergiat mengasah kesalehan sosial, seharusnya tak masalah bukan? Aku sewot.

“Makanya saya tidak berangkat umroh atau haji dari dulu karena alasan itu dek. Saya sekarang berjuang untuk ummat lewat buku Islam,” katanya.
Hatiku panas. Niat tulusku berangkat umroh diremehkan oleh orang lain yang sok tahu isi hatiku. Menurutku, ia tak berhak men-judge keputusanku. Apalagi sampai menganggap aku tak mampu kalkulasi pahala.

”Pak, dalam ibadah itu, kita tidak mencari dan menghitung-hitung pahala. Kita harusnya pikirkan syarat suatu amalan diterima, yaitu ikhlas. Yang penting ikhlasnya pak. Pahala mah, serahkan pada Allah saja. Bukan urusan kita. Kalau pahalanya kita anggap besar, tapi tidak ikhlas, ya sama saja bohong.,” ujarku menyerang balik. Kali ini aku langsung hantam saja secara frontal meski orangnya sudah berumur. Hatiku sudah kadung panas.

Ia sempat bertanya padaku,”Emangnya apa tujuan adek umroh? Kenapa memilih umroh?” Aku jawab,”Karena saya yakin, umroh akan mendatangkan sesuatu yang saya tidak tahu apa itu, tapi sesuatu yang “nampol” secara positif ke depannya.” Dalam hati aku punya keyakinan besar akan mendapatkan “sesuatu” dari umroh. Setelah melakukan mapping terhadap karakter pribadiku, aku termasuk tipe orang yang mudah terinspirasi lewat visual. Aku gemar berfantasi, menantang diri menaklukkan/ mewujudkan suatu keinginan, dan rasanya sudah lama aku tak menantang diriku lagi. Kali ini, umroh menjadi tantanganku.” Itulah penjelasan atas pilihan berangkat umroh. Namun tak semuanya kusampaikan pada Pak Mongisidi.

“Yakin?” Tanya Pak Mongisidi padaku.
“Nah, itulah kebanyakan orang Indonesia. Berangkat umroh atau haji karena “yakin” harus berangkat.” Perkataannya itu disertai nada meremehkan, merendahkan niatku. Kesal sekali menghadapi orang seperti itu. Ingin rasanya kita membungkam komentar miring orang-orang seperti ini dengan bukti nyata perbuatan. Percuma rasanya menyerang balik mereka dengan kata-kata.
Perdebatan itu berujung pada deadlock pendapat masing-masing. Aku berpendapat, Allah punya caranya sendiri-sendiri dalam memanggil hamba-Nya menuju tanah suci. Di masa muda, di masa tua, saat kaya, ataupun saat kurang harta. Namun, aku juga berpikir, jika memang Pak Mongisidi berkalkulasi pada pahala, aku juga bisa berkalkulasi. Berangkat umroh atau haji di waktu muda, tentu badan lebih fit dibandingkan berangkat saat tua. Umroh atau haji adalah sepenuhnya ibadah fisik. Jika tak kuat, tentu akan jatuh sakit dan kurang optimal. Untuk hal ini Pak Mongisidi tidak setuju. Ia mengatakan banyak orang yang tua, tapi masih kuat haji atau umroh. Namun menurutku lagi, ia seperti mengingkari sunatullah logikanya sendiri. Semakin tua seseorang, kekuatan fisiknya akan semakin melemah. Sekarang, siapa yang terbukti tak pakai kalkulasi?

Perdebatan itu aku tutup dengan interupsi ingin shalat Ashar di awal waktu. Kami berpisah baik-baik dengan tetap yakin pada pemikiran sendiri. Aku tak mendapatkan buku yang dicari padanya. Ia sedang kehabisan stok.
Belakangan, aku diskusi dengan temanku. Ia bilang, kalau wakaf itu memang pahalanya mengalir terus. Tapi, wakaf itu tidak wajib. Sementara, di dalam Rukun Islam, haji itu hukumnya wajib bagi yang mampu. Nah, aku pikir, pak Mongisidi yang mantan anggota DPRD itu tergolong orang mampu. Masa anggota DPRD yang gajinya besar, tidak mampu haji?

Umroh atau Haji?

Waqf....Mau?
Tak cukup hanya hunting buku tentang umroh dan haji, aku juga pergi ke pameran umroh dan haji di Jakarta Convention Center (JCC). Awalnya tak yakin, akan seperti apa bentuk pamerannya. Ternyata luar biasa. Stand para travel agent berlimpah. Pengunjungnya pun sangat ramai. Hampir sama dengan pameran property atau komputer di JCC pada umumnya. Suasana penuh sesak sore itu. Aku kumpulkan semua brosur dan tawaran menarik dari bermacam travel agent. Aku komparasikan semua harga yang paling ekonomis. Yang penting bagiku, berangkat umroh, bukan kenyamanan fasilitas. Tapi, yang namanya pameran, harga yang ditawarkan tak murah. Paling murah sekitar USD 1450. Itupun biasanya sudah sold-out. Harga rata-rata yang ditawarkan ada di kisaran USD 1.600 – 1.700. Harga yang mahal untuk kocek-ku saat itu.

Ternyata, pameran haji dan umroh tak hanya ada di Jakarta. Temanku di Surabaya bilang, di sana juga ada pameran haji dan umroh, tepatnya di City of Towomorrow (CITO) Surabaya. Antusiasme pengunjungnya juga tinggi. Semua tour and travel ramai-ramai memberikan promo diskon haji dan umroh, meski jumlahnya terbatas. Aku belum cek, tapi mungkin saja juga ada pameran serupa di kota lain.

Berikut ini tips atau pelajaran yang bisa diambil dari pameran haji dan umroh: Anda bisa datangi acara tersebut untuk menjadikannya sebagai referensi harga dan fasilitas yang ditawarkan oleh travel ketika berangkat haji dan umroh. Syukur-syukur Anda dapat harga miring. Tak jarang, di sana ada juga hadir langsung pemilik travel. Jadi, bukan tidak mungkin, ketika negosiasi, pemiliknya sedang baik hati dan mau memberi diskon untuk perseorangan yang disukainya. Siapa tahu?

Satu kesimpulanku pada pameran haji dan umroh. Ternyata orang Indonesia itu sangat cocok dijadikan objek bisnis. Apalagi objek bisnisnya menyangkut hal-hal spiritual. Haji dan umroh adalah salah satu yang prestisius dan diminati banyak muslim Indonesia. Bayangkan saja, orang berebutan daftar umroh dan haji saat pameran sore itu. Tapi, di tengah mencoloknya peminat haji dan umroh, dan rekor jemaah Indonesia yang paling banyak saat musim haji, aku sempat heran. Mengapa kemiskinan masih banyak di Indonesia? Bukankah haji itu intinya adalah mengasah kesalehan pribadi dan sekaligus sosial? Bukankah kisah inspiratif dari Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail, serta ritual tawaf, sa’i, dan lainnya bisa diambil hikmah dari sana dan diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?

Temanku yang juga umroh bulan Juli sempat cerita. Muthowwif (pembimbing) umrohnya mengatakan, “Masuk kota Madinah, pahalanya dikali 1000. Masuk kota Mekkah, pahalanya dikali 10.000. Jadi, perbanyaklah ibadah, bisa shalat sunnah, bisa berbuat baik. Kalau kita punya niat jahat, dosanya juga dikalikan berlipat.”

Mungkin jemaah Indonesia juga Indonesia juga memakai kalkulasi otak kiri untuk menghitung pahala. Nah, kalau sudah pulang ke Indonesia, unsur berbuat baiknya yang biasa dilakukan di tanah suci, sudah dilupakan, karena mungkin dianggap pahalanya tidak seberapa. Kalau seribu di tanah suci, mungkin di tanah air dianggap pahala kebaikannya dihitung 1 saja.

Padahal, pahala itu, bisa saja tidak dihitung dalam dimensi otak kiri yang kalkulatif. Tapi bisa dihitung juga dengan kalkulasi otak kanan yang tidak bisa dihitung secara matematis. Misalnya shalat jemaah. Pahalanya kalau 1 orang berjemaah dengan 1 orang lainnya, dihitung 27 kali lipat. Kalau shalat sendiri, dihitung 1 kali saja.

Mau nganan, atau ngiri? (left-brain-right-brain (www.andaka.com)
                                                                                      ***
Hunting harga paket umroh sudah dilakukan. Saatnya berdoa dan berusaha, agar semua urusan dilancarkan. Saat itu, saldo di rekeningku memang masih belum cukup untuk berangkat umroh. Terlebih, aku harus pandai-pandai mengatur keuangan untuk persiapan nikah. Jadi, uang nikah tak boleh diganggu gugat. Aku mempersiapkan diri untuk mendapatkan biaya umroh entah dari mana.

Caranya? Lagi-lagi mengandalkan doa sembari tetap berusaha. Berdoa bisa dilakukan kapan saja. Ibadah shalat malam diperbanyak, dan shalat Dhuha tak lupa dirutinkan, sembari menyelipkan doa minta diperluas rezeki pada Allah sang Maha Pemurah dan Pemberi rezeki. Intinya, keyakinan pada Allah yang maha menjawab doa hamba-Nya harus ditancapkan dalam-dalam di sanubari. Ketika masuk waktu Dhuha, memang terasa agak sulit.

Kesibukan kerja bisa melenakan komitmen kita untuk ibadah. Kadang kita terlena, menunda, dan seterusnya. Tapi di sanalah tantangannya. Di tengah padatnya persaingan tv, aku mencoba menyempatkan diri untuk shalat Dhuha. Kadang sebelum berangkat kerja, kadang sebelum memulai kerja. Kebetulan ada mushola di samping ruangan kantor.
Hasilnya cukup mengejutkan. Hanya dalam hitungan kurang dari 2 bulan, sudah ada tanda-tanda positif. Semua jalan dibukakan. Aku sempat nekat ingin umroh backpacker. Rasanya waktu itu semua jalan dipermudah. Kuswantoro, temanku di Jeddah, merekomendasikan untuk menghubungi Akif, adik kelas kami di SMU Insan Cendekia. Kata Kus, Akif adalah pengusaha muda di Mekkah. Aku coba kontak Akif. Ia juga menyambut baik niatku. Akhirnya Akif memberiku calling visa mengunjungi Arab Saudi melalui perusahaannya.

Alhamdulillah. Pikirku, mungkin aku bisa kontak Akif juga untuk cari penginapan murah di sana. Menurut Kuswantoro, biaya makan yang mewah di sana sekitar Rp 30 ribu. Aku coba kalkulasikan biaya penginapan, makan, transportasi, dan uang lain-lainnya. Semua dihitung detil, agar perjalanan lancar tanpa kurang apapun. Ada-ada saja jalan yang dibukakan Allah. Siapa sangka, aku dikenalkan dengan pengusaha muda seperti Akif? Dan ternyata ia adalah adik kelasku pula saat SMA, meski tak sempat bertemu.
Akhirnya hari yang tak diduga-duga datang juga. Ketekunan, kekuatan tekad, dan kesungguhan doa, berbuah hasil. Tempat kerjaku menjalankan sistem insentif baru. Kata direktur di akhir 2010 dulu, jangan berharap banyak pada insentif baru ini. Anggap saja insentif ini sebagai uang untuk beli “gorengan”.

Namun Allah punya kuasa. “Gorengan” itu muncul di saat yang tepat, di saat keinginanku untuk umroh begitu menggebu-gebu. Tiba-tiba saja, “gorenganku” itu jumlahnya mengejutkan hati, dan juga membuat yakin akan kuasa Allah itu nyata jika kita rajin meminta pada-Nya sembari berusaha. Berbekal “gorengan” itu, aku bisa membiayai umroh pertamaku. Jumlahnya lebih dari biaya yang dibutuhkan. Aku senang bukan kepalang. Terima kasih Allah. Benar-benar terima kasih atas jawaban doa hamba-Mu.

Berangkat Umroh dengan "Gorengan"
***
Tekadku untuk umroh backpacker makin kuat. Aku membuat list apa yang harus dilakukan sebagai persiapan. Salah satunya adalah menyiapkan passport. Kebetulan, aku sudah pernah membuat passport di Riau. Jadi tak perlu lagi repot mengeluarkan uang. Namun, ada ganjalan. Kalau kita ke negeri Arab Saudi, mereka memberi syarat wajib nama yang tertulis di passport terdiri dari 3 suku kata. Waduh, namaku kan Adlil Umarat cuma ada 2 suku kata. Terpaksalah aku cari info bagaimana menambahkan satu lagi suku kata. Ada-ada saja nih kebijakan di Arab. Aku tanya ke om google. Ternyata, ada bermacam variasi info. Namun umumnya mengatakan bahwa penambahan suku kata pada nama bisa dilakukan dimana saja. Alhamdulillah aku jadi semangat. Meski passportku Riau, tapi mungkin bisa diurus di sini, Jakarta.
Dengan semangat ’45, aku datang ke kantor imigrasi Jakarta Selatan. Meski membuat passport di Riau, tapi dengar kabar pengurusan penambahan tiga suku kata itu bisa dilakukan dimana saja. Aku tanya syarat-syaratnya apa saja. Semua dokumen yang dibutuhkan sudah disiapkan. Saat itu, map khusus dari koperasi kantor keimigrasian berikut materai sudah dibeli. Formulir penambahan nama sudah aku isi dan segera aku tanda tangani di bagian bawahnya berikut tempelan materai. Namaku menjadi Adlil Umarat bin Asril. Nama belakang itu adalah nama ayahku. Tapi, begitu sampai di depan petugas, aku hanya bisa bengong mendengar jawaban darinya. “Pak, ini saya mau menambahkan suku kata pada nama,” begitu ucapku sambil menyodorkan semua dokumen yang dibutuhkan. Petugas itu hanya diam saja sambil mengambil berkasku. Ia tampak tak bersemangat. Benar saja, begitu ia tahu passportku dari Riau ia bilang, “Mas, ini harus diurus di tempat passportnya terbit” Aku hanya bisa pasrah. Berdebat dengannya tak ada gunanya. Aku sempat tanya, bukankah kebijakannya bisa diurus di kantor imigrasi mana saja. Ia tetap ngotot menyatakan tak bisa. Aku lemes. Terpaksalah aku akan mengurusnya di Riau, menitip lewat abangku.
Awalnya memang pasrah untuk mengurus penambahan suku kata pada namaku. Tapi aku iseng, bertanya pada beberapa travel agent umroh dan haji. Ternyata mereka mengatakan bisa mengurusnya di Jakarta, meski passportku bukan keluaran Jakarta. Aku bingung dibuatnya. Di Indonesia, tak ada yang pasti. Entah itu jalur siluman atau tidak. Aku tak tahu. Sayangnya aku tak punya teman di keimigrasian. Jika punya, tentu bisa bertanya tentang bagaimana kebijakan yang sebenarnya. Aku tanyakan ke sebuah travel agent di kawasan Mampang Prapatan. Mereka bilang bisa mengurusnya dengan biaya Rp 150.000. Dari hasil pencarianku di internet, harga tersebut adalah harga standar yang paling ekonomis. Ada juga aku temukan travel agent yang minta Rp 250.000. Belakangan aku putuskan akhirnya mengurusnya lewat jasa travel agent, daripada mengurusnya di Riau. Memakan waktu lebih lama dan dana yang lebih besar.
Belakangan saat aku umroh, ada pengalaman menarik yang diceritakan jemaah lain. Terkait mengurus penambahan suku kata pada nama itu, ada temannya yang tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Harusnya ia mengeluarkan biaya tertentu. Tapi begitu ia minta nota/bon ke petugasnya agar bisa diganti kantornya (reimbursment), si petugas tak bisa memberikan nota yang diminta. Akhirnya ia tak perlu bayar alias gratis. Mungkin cara ini bisa Anda coba di kantor imigrasi. Jangan-jangan memang tidak perlu kena biaya. Siapa tahu? Perlu penyelidikan lebih lanjut. Investigasi mendalam, apakah memang bayar atau tidak. Kalau tidak bayar, berarti ini penyelewengan. Kalau memang ada kebijakannya, ya berarti memang legal. Menarik untuk diselidiki. Siapa yang mau selidiki dan menuliskannya?
Kembali ke laptop….
Uang sudah ada, calling visa sudah di tangan, sekarang tinggal booking penerbangan dan urus visa di Kedubes Arab Saudi. Akhirnya aku datangi Maskapai Saudi Arabian dan ingin booking tiket. Beberapa bulan sebelumnya memang aku lihat di internet harga tiket sekitar USD 700-an sudah PP. Tapi, karena calling visa-nya keluar agak telat dan mepet, akhirnya aku kena imbasnya. Tiket pesawat harganya saat itu melonjak jadi USD 1.000-an.
Aku datangi Kedubes Arab Saudi dan Enjaz. Aku catat semua syarat-syaratnya. Ternyata harganya murah. Untuk calling visa ziarah bisnis (60 hari), kita cukup membayar USD 50 untuk mengurusnya di Kedubes Arab Saudi. Namun, ada satu syarat yang mengganja langkahku. Ada satu surat yang harus diurus ke Departemen Perindustrian dan harus meminta surat pengantar dari perusahaan tempat kita bekerja di Indonesia.

Wah, ini aku pikir agak ribet. Aku tak punya waktu untuk izin mengurus hal itu. Kerjaanku tidak bisa ditinggal. Harga tiket pesawatnya juga sudah mahal. Aku telat booking. Apes! Pelajaran berharga, jika ingin bepergian ke umroh berikutnya dengan cara backpacker, harus pesan tiket jauh-jauh hari. Setelah melalui pertimbangan dalam waktu singkat, aku putuskan tidak jadi berangkat umroh ala backpacker. Aku alihkan pilihan umroh memakai jasa travel agent. Toh harganya tidak terlalu jauh beda jika dikalkulasi.
Aku alihkan rencana dalam hitungan jam. Aku segera hunting travel agent umroh yang paling ekonomis. Aku cari di Koran dan internet. Hasilnya aku temukan yang paling murah USD 1350. Nama agen travelnya Cahaya Redup (Bukan nama sebenarnya). Aku coba telpon dan pelajari tawaran mereka. Kebetulan kantornya dekat dengan kantorku. Jadi merasa seperti dimudahkan saja oleh Allah.
Aku beberapa kali datang ke travel agent tersebut untuk memastikan benar harganya adalah yang paling murah dengan fasilitas yang tak kalah bagus. Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika mengkomparasikan harga paket umroh diantaranya: Tiket pesawat PP (CGK-JED-CGK), Akomodasi Hotel, Transportasi, Guide dan Pembimbing, Paket Berapa Hari? 9 atau 11?, Komposisi Mekkah-Madinah, Harga, Buku Doa & Panduan, Seragam, Sabuk, Ihram, Koper, Hand bag, Tanda pengenal, Air Zam Zam, Kelebihan Timbangan, Handling & Airport Tax, Manasik, Visa Umroh, Katering, dan lain-lain.
Harga hotel di Mekkah tentu lebih mahal dari Madinah. Untuk pesawat, pilih yang pesawat dengan pelayanan terbaik. Emirates dan Ettihad adalah kelas utama. Sisanya kelas so-so. Saat itu aku dijanjikan Emirates. Namun karena ada kendala pada visa umroh, akhirnya batal dan diganti Royal Brunei. Kalau bisa, Anda harus memilih travel yang lebih banyak menginap di Mekkah daripada Madinah, karena inti dari Umroh ada di Mekkah. Pastikan juga makanan Indonesianya enak.

Pastikan juga semua fasilitas yang diberikan cukup bagus dan banyak. Pastikan juga hotelnya ternama. Anda bisa cek di internet. Biasanya Anda akan ditawari apakah mengambil yang 1 kamar berdua atau 1 kamar berempat. Tergantung budget dan karakter Anda. Jika ingin kenyamanan sendiri, bisa pilih yang satu kamar 2 orang. Harganya tentu lebih mahal. Jika ingin banyak dapat kawan baru, dengan cerita beragam, bisa pilih 1 kamar berempat. Hampir semua kamar hotel di Mekkah dan Madinah diset seperti ini.
Minta dikirim via email booklet promo travel, lalu pelajari. Jangan terjebak harga murah saja. Ingat fasilitas yang diterima. Nama hotel bisa dibandingkan. Fasilitas lain, bisa cek pengalaman jemaah yang telah ikut travel tersebut sebelumnya. Pada umumnya, bisnis travel adalah bisnis kepercayaan. Jadi, testimoni mantan pengguna jasa travel adalah penilaian terbaik yang bisa dipakai sebagai acuan. Bandingkan pengumuman fasilitas di booklet. Ingat juga, jangan sampai terjebak deal terkait harga.

Biasanya Anda akan ditaruh di kamar berdua, dengan harga lebih mahal dengan alasan akan dikembalikan uang jika mendapat sekamar berempat. Jangan mau. Jika budget Anda terbatas, langsung pilih kamar berempat. Selisihnya bisa sampai USD 100. Lumayan banget kan?
Nah, berikut mari cek list yang saya coba rangkum agar memudahkan teman-teman yang punya niat berangkat umroh memperhitungkan item-item penting sebagai persiapan.
Items Keterangan Hrg USD 1350 Hrg USD 1850 (versi lain)
Tiket pesawat PP (CGK-JED-CGK) Pilih jenis pesawat yang nyaman. Saudi Arabian, Royal Brunei, Lion Air, Batavia, Garuda Indonesia, Qatar Airways, Emirates, Ettihad. Kalau bisa, tanya mana airline yang paling nyaman. Biasanya Ettihad, Emirates, Royal Brunei fasilitas dan pelayanan ok. Sisanya masih di bawah itu. Brunei Royal PP (sangat nyaman, ada tv, musik, dan makanan ok) CGK-JED Saudi Arabian; JED-CGK Lion Air (Saudi Arabian tidak ada tv di depan tempat duduk)
Akomodasi Hotel Pihak travel kerap memainkan opsi hotel. Hotelnya bisa jadi beda antara yang dipublikasikan dengan yang ditempati di sana. Alasan bisa macam-macam. Bisa karena diserobot orang/ rombongan lain, dll. Nyamankah? Tanya fasilitas bintang berapa, 1 kamar apakah 1 toilet? Berapa komposisi per kamarnya? Berapa harganya? Harga hotel di Mekkah lebih mahal daripada di Madinah. Ar-Raudhoh (Madinah), Al-Yarmouk (Mekkah). Al-Andalus Al-Khoir (Madinah), Assalam An-An-Nakheel (Mekkah)
Transportasi Bus AC, kursinya bagus atau tidak? Supirnya baik atau tidak? Nyetirnya bagus atau tidak? Ada lagi supir yang tidak mau ke percetakan Al-quran karena dia minta tambahan uang. Busnya AC. Biasanya rada-rada telat. Di dalam bus dibagikan roti dan air mineral Busnya AC. Biasanya rada-rada telat. Di dalam bus dibagikan roti dan air mineral
Guide dan Pembimbing Pastikan orang yang kompeten, berpengalaman, mengayomi, dewasa, mengerti tata cara umroh/ haji. Kalau bisa, pilih yang S2/ S3 (mahasiswa). Jangan yang bukan mahasiswa, apalagi pembimbing gadungan. Dapatnya muthowwif ilegal. Belajar agama seadanya, belum teruji, tidak kompeten. Kalau ada pemeriksaan, dia ngumpet di belakang bus. Mahasiswa S3 di Madinah. Masih muda, tipe pembelajar, bukan Islam ekstrim, memberikan penjelasan logis, bisa diskusi dengan berilmu. Dapat 2 muthowwif: 1 dari Indonesia, 1 lagi ketemu di sana.
Paket Berapa Hari? 9 atau 11? Bedakan harganya, dan bandingkan jumlah harinya. Apakah ada transit di negara tertentu atau tidak? Apakah ada nginap di negara tertentu atau tidak? Paket 11 Hari, menginap semalam di Brunei Darussalam Paket 11 Hari, menginap di Hotel Borobudur karena ada delay dari Saudi Arabian
Komposisi Mekkah-Madinah Lebih baik lama di Mekkah daripada di Madinah. Karena lebih punya peluang banyak beribadah umroh berkali-kali. 5 hr Madinah, 4 Mekkah -
Harga Apakah pakai USD atau Rupiah? Kalau pakai USD, dan Rupiah sedang menguat, ini akan sangat menguntungkan. USD 1350 USD 1850
Buku Doa & Panduan Buku doa biasnaya kecil, dikalungkan, ringkas, diberi tali dapat dapat
Baju Koko/ Jubah Hitam/ Seragam Batik Seragam ini untuk membuat mudah dikenali dari jauh ketika ada di Madinah/ Mekkah Tidak dapat. Hanya dapat bahan baju batik untuk dibuat seragam. Dapat
Sabuk Pengaman ihram Tidak dapat Dapat
Ihram Kain ihram Dapat ihram untuk laki-laki. Untuk perempuan dapat 1 mukena Ihram untuk lelaki, mukena atasan 1, jilbab 1, baju hitam 1 untuk perempuan.
Koper Dapat trolley besar untuk bawa baju

Tanda pengenal Gratis, dikalungkan, bahan spt ATM Card Dapat Dapat
Hand Bag Untuk bawa passport, dokumen, dll Harusnya dapat, tapi saya tidak diberi. Dapat 3: tas passport, tas untuk mukena, sandal
Air Zam Zam Gratis tiap orang dapat jatah 10 liter gratis gratis
Kelebihan Timbangan Dibayar sendiri

Surat Mahram Surat bagi perempuan yang berangkat tidak bersama mahramnya (dititipkan) Terpisah, nambah beberapa ratus ribu Sudah termasuk
DAM (Denda) Bayar sendiri ke muthowwif Bayar pribadi Bayar pribadi
Pengeluaran Pribadi Telpon, Laundy, Oleh-oleh Bayar pribadi Bayar pribadi
Handling & Airport Tax Dibayar terpisah Rp 600.000 Rp 600.000
Manasik Penjelasan tentang umroh/ haji oleh Ustadz. Biasanya mengambil tempat di hotel atau di tempat makan tertentu Ada, tapi saya tidak diikutsertakan. Miss komunikasi. Ada
Visa Umroh Visa Umroh dikeluarkan oleh Kedubes Arab Saudi di Indonesia Sudah termasuk biaya dibayarkan Sudah termasuk biaya dibayarkan
Katering Seberapa cocok menunya dengan lidah kita? Apakah masakan Indonesia atau tidak? Biasanya makanan Indonesia sudah sangat membumi. Tanyakan apa saja contoh komposisi makanannya Lebih enak di Mekkah daripada di Madinah -

Vaksinasi Meningitis Penting Tanpa Calo
Setiap jemaah yang akan berangkat umroh atau haji pasti dimintai syarat agar sudah punya kartu vaksinasi meningitis. Aku coba cari info soal sakit meningitis. Ternyata, sakit yang menyerang otak itu virusnya banyak tersebar di negara Arab yang berkarakter gurun. Dampak dari penyakit itu pun aku pelajari. Menurutku, dampaknya cukup berbahaya bagi kesehatan seseorang. Nah, untuk itu aku sarankan, Anda harus ambil vaksinasi meningitis sebagai langkah aman.

Kalau di Jakarta, ada empat tempat utama: RS Fatmawati, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Soekarno-Hatta, dan Pelabuhan Tanjung Priok. Kalau di RS Fatmawati, harganya sedikit lebih mahal saat itu. Sekitar Rp 400 ribuan. Sementara di tempat lainnya relatif lebih murah, seharga Rp 280 ribu. Aku memilih suntik di Soekarno-Hatta karena dekat dengan tempat kerjaku. Tinggal naik bus Damri Rp 20 ribu, lalu turun di kantor pos depan Bandara. Nah, tempat suntiknya ada di samping kantor pos itu. Gampang dicari kok. Tinggal tanya saja ke petugas keamanan dimana letak kantor pos di sana.

Kartu Vaksinasi Meningitis, ada yg murah, ada yg mahal.
Setiap jemaah wajib menjalani suntik vaksin meningitis yang dibuktikan dengan buku kuning. Buku tersebut adalah syarat untuk mendapatkan visa umrah. Suntik vaksin dan buku kuning dapat diperoleh pada hari kerja Senin s/d Jumat di :
  1. KKP Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, Telp.5502277, 5506068
  2. KKP Bandara Halim Perdana Kusuma, Telp. 8000166
  3. KKP Pelabuhan Tanjungpriok, Telp. 43931045 – 4373266, Fax: (62-21) 4373265
  4. KKP Pelabuhan Merak, Telp. 0254-571083
  5. RS Fatmawati Jaksel, Centra Haji dan Umrah Lt. Dasar, Telp. 7501524 ext.1639
  6. Garuda Sentra Medika, Kemayoran, Telp. 4241000, 99080383
Sebagai catatan, travel agent akan menawarkan bantuan apakah ingin dibuatkan surat vaksinasi Meningitis atau tidak. Biayanya sekitar Rp 300 ribu, namun tanpa suntik dan hanya diberi kartunya saja. Ini bagian dari praktek calo kesehatan. Ternyata, travel agent banyak yang bekerjasama untuk kasus pemenuhan kebutuhan syarat berangkat umroh ini. Bayangkan, jika tiap jemaah ditarik uang sekitar Rp 300 ribu, tanpa suntik, hanya bermodalkan kertas print yang ada. Berapa keuntungan yang didapat masing-masing pihak, baik calo kesehatan, maupun travel agent?
Aku pribadi lebih memilih melakukan vaksinasi Meningitis sendiri. Biayanya lebih murah, hanya Rp 280 ribu. Jangan mau menerima tawaran travel untuk dapat kartu vaksinasi tanpa suntik. Aku sendiri tak mau ambil resiko terkena Meningitis di Arab Saudi. Lebih baik hilang uang ratusan ribu, daripada terkena penyakit Meningitis yang menyerang selaput otak manusia. Pertaruhan yang beresiko tinggi.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah proses jelang berangkat umroh berjalan mulus? Apa saja cobaan yang akan dihadapi tepat sebelum berangkat? Nantikan ceritanya di tulisan Umroh Dari Warung Padang part 3…..

Sumber:  http://umarat.wordpress.com/2011/10/02/umroh-dari-warung-padang-part-2-rencana-persiapan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar